Alhamdulillah, begitu banyak nikmat Allah mengalir dalam raga ini. Pun ketika ayah diberi riski cukup untuk menyekolahkan kami, anak-anaknya. Bersyukurlah bagi siapa pun yang mengecap manisnya duduk di bangku sekolah dan mencetak prestasi. Karena kenyataannya, begitu banyak saudara kita yang tak mampu secara finansial mengambil haknya untuk sekolah. Begitu juga Lintang.. Ikal.. Mahar.. Harun.. Dan pasukan laskar pelangi lainnya..
Mungkin tidak asing, atau sudah bosan sobat baca tulisan tentang laskar pelangi, begitu banyak teman yang mendokumentasikan hasil nobar laskar pelangi pada blog masing-masing. Pun saya saat ini. Sekedar ingin berbagi..
Saya seorang guru. Entah pantas atau tidak disebut sebagai seorang guru. Melihat perjuangan ibu Muslimah yang begitu luar biasa, membuat saya malu. Asstaghfirullah.. Itu lah guru yang sesungguhnya. Huff.. Masih terasa haru di hati ini saat mengingat fragmen kemarin. subhnAllah..
Dunia pendidikan adalah pilihan dan cita-cita saya sejak dulu. Walaupun kuliah mengambil jurusan komputer-awalnya-, tapi ilmu itu tetap saya turunkan melalui “mengajar”, bukan menjadi pegawai. Sampai akhirnya betul-betul membelokkan arah menuju fakultas pendidikan. Selama di sana, saya begitu terkesima dengan berbagai ilmu yang diajarkan.
Ketika turun ke lapangan, saya terhenyak..Ini lah potret pendidikan Indonesia. Saya PPLK II di sebuah Madrasah Tsanawiyah di tengah jantung kota Palembang. Sekolah sederhana, guru-guru sederhana nan luar biasa. Nampaknya, skenario Allah begitu berperan. Saya ingat, dulu saya pernah menuliskan beberapa poin list keinginan untuk lima tahun ke depan, kalo ga salah saya nulis itu tahun 2003. dan dikabulkan oleh Allah salah satunya pada tahun 2007.
“Saya ingin menjadi guru bagi anak-anak yatim piatu”
Itu salah satunya. Dan Allhamdulillaaah.. Nikmat Allah begitu membuat saya tergugu dan menjadi insan paling bersyukur saat itu. Saya ditempatkan mengajar di madrasah tsanawiyah yang 75% siswanya adalah anak-anak panti asuhan dan yatim piatu. Mereka sekolah gratis, di bawah yayasan Islam. Pun ada yang bayar, mereka adalah siswa di luar panti asuhan. Ada sekitar 6 panti asuhan yang menyekolahkan anak nya di madrasah itu. Satu kelas hanya terdiri dari 15 siswa saja. Malah ada yang 10 siswa. Bahagia berada di tengah anak-anak yang sangat dicintai Rosulullah itu. Bahagia bisa mengusap kepala mereka setiap hari. Bahagia bisa menggenggam tangan mungil mereka ketika terisak sambil berkata,
“aku belum ketemu samo mamak aku sampe saat ini, bu”
Huff.. Anak-anak ku tersayang, mereka juga berhak mendapatkan kehidupan yang sama dengan anak-anak yang lain..
Ingin rasanya memeluk mereka semua, menenangkan, memberi keyakinan,
“jangan putus asa, beranilah bermimpi.. Beranilah membangun cita-cita.. “
Seperti yang dikatakan ibu Muslimah pada Laskar Pelangi..
Lintang..
Menjadi icon anak bangsa yang cerdas tapi terpasung dengan kehidupan yang menyulitkan. Menjadi anak tua dengan tiga adik perempuan yang menjadi tanggung jawab besarnya. Orang tua yang sudah tidak ada, membuat ia harus berhenti sekolah. Padahal, jika saja dia tetap sekolah, akan menjadi pengharum bangsa, bahwa ada satu anak cerdas dari sekolah yang hampir dibubarkan dan roboh. Bisa jadi, Lintang menjadi Presiden Indonesia satu-satunya dari tanah Balitong.
Dan..
Jika saja pemerintah “peka” dengan kebutuhan anak-anak bangsa yang menjerit ingin sekolah, maka anak-anak itu tidak perlu menjadi kuli angkut barang di pasar, pemecah batu, penjual koran, atau apapun lah, sebagai ganti aktivitas sekolah. Dan, kebodohan di negeri ini akan segera terhapuskan.
Indonesia menjadi bangsa “tak beretika” karena di mulai dari kebodohan. Korupsi meng-akar, karena yang korupsi adalah manusia-manusia paling bodoh sedunia yang tersesat menjadi pegawai pemerintahan. Kriminal merajalela karena sang penjahat bodoh tak mampu mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan, dan kondisi memaksa ia untuk menjadi bodoh tak mengetahui bahwa yang ia kerjakan merugikan orang lain dan dilarang oleh agama.
Negeri ini terpuruk karena kita bodoh tak mau belajar dari sejarah. Tak mampu menghargai hasil karya dan bodohnya kita tak mau merubah kondisi ini menjadi lebih baik, dan lagi-lagi sangat tololnya kita malah membeli “otak” luar negeri untuk membangun negeri ini daripada mengkaryakan “otak” anak bangsa yang jauuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih luar biasa dari orang luar negeri yang picik itu.
Huff…
Potret pendidikan indonesia..
“saya mendapat PMDK Kedokteran Unsri, mbak. Tapi saya tetap ga mampu untuk membiayai kuliah selama 6 tahun itu. Saya lebih milih kerja, daripada kuliah. Karena kondisi orang tua sangat membutuhkan saya membantu menopang kebutuhan adik-adik”
Lihaaat??!!! Lihaaat??!!! Ini fakta!!
Seorang adik rohis berkata dengan kelu nya kepada saya saat itu. Sakiitt.. Demi Allah!! Sakit!! Begitu miskin kah negeri ini sampai tak ada yang mampu membantu ia untuk terus sekolah?? Begitu sulitkah birokrasi di negeri ini untuk memudahkan ia mendapatkan beasiswa?? AllahuAkbaar!!
Begitu banyak Lintang-Lintang yang lain “berserakan” di negeri tercinta ini. Mau diapakan?? Lembaga pendidikan malah menampung mahasiswa-mahasiswa tak berbobot, YANG MENYOGOK RATUSAN JUTA DEMI PRESTISE KULIAH DI UNIVERSITAS NEGERI!!!! Pun Lembaga Swasta yang berlomba “menjual belikan” bangku kuliah dengan nominal grade yang didapat sang calon mahasiswa. Komersialisasi Pendidikan.. Inilah yang terjadi.. Pembodohan yang bertubi-tubi!!!
Saat ikhtiar dimulai dengan sesuatu yang tak diridhoi Allah, maka hasilnya?? Akan seperti fatamorgana.. Sia-sia tak bermanfaat..
Di Papua, seorang penjaga sekolah “terpaksa” menjadi satu-satunya guru mencakup kepala sekolah. Karena guru yang sesungguhnya, tak mampu mengajar di pelosok, pun kepala sekolah yang terhormat. Padahal, perjuangan para murid untuk mencapai sekolah itu jauh lebih luar biasa dari pada guru dan kepala sekolah yang mendapat fasilitas rumah dari pemda. Sama seperti Lintang, harus sabar menunggu buaya berlalu, baru kemudian meneruskan laju sepeda yang mengantarkan ia ke gerbang sekolah. Tapi Lintang jauh lebih beruntung, sang guru begitu sabar menunggu kedatangan ia di dalam kelas. Tidak begitu dengan anak-anak Papua itu. Guru dan kepala sekolah justru meninggalkan mereka dengan cita-cita yang belum begitu kokoh terpancang.
MENJADI GURU YANG SESUNGGUHNYA ADALAH SANGAT SULIT
Butuh keikhlasan, tanpa pamrih mengalirkan ilmu kepada hati-hati si kecil yang baru belajar membangun mimpi dan menciptakan sebuah cita-cita masa depan. Seperti Rosulullah.. Guru yang sesungguhnya..
Apapun kondisinya.. Guru tetaplah guru.. Sosok yang digugu.. Yang dicontoh.. Uswatun hasanah..
Bukan guru yang mengharap imbalan kado saat bagi rapot tiba, atau guru yang masuk kelas memberi tugas LKS lalu berlalu dan duduk manis di kantor sambil ngegosip yang ga perlu dengan para guru yang lain, yang ternyata sama BODOHnya!!!! (lha.. Gimana ga bodoh, kerjanya ngegosip doang, kalo pinter ya ngajar tugasnya, berhubung bodoh, jadi ga ada ilmu yang mo dia ajarkan.. Masih pinteran penjaga sekolah di Papua itu, buktinya ajah bliau ikhlas mengajarkan ilmu yang bliau punya kepada anak didik yang dinggal oleh guru dan kepala sekolah yang BODOH!!! Ga pantes disebut guru, ugh!! Mencoreng nama baik GURU sedunia!!)
Potret pendidikan Indonesia..
Begitu banyak harapan yang diterbangkan di awang-awang.. Semoga sampai ke langit ke tujuh. Se-iring ikhtiar yang membanjir peluh. Semoga mampu merayu hati-Nya untuk mengalirkan berjuta kebaikan pada negeri ini.. Amin.. Allahumma Amiin..
Dedicated for :
- Pendidik yang terdidik dan mendidik di muka bumi.. Teruslah menjadi lentera, menerangi kami dengan ilmu dan menyejukkan hati kami dengan pekerti..
- Panda Besarku.. Terima kasih sudah mengajariku menjadi guru yang ikhlas..
- Amel.. Ade ku sayang, jadilah guru yang sesungguhnya, semoga peluh yang mengalir, berganti dengan nikmat dan kesabaran.. Tetap semangat!!!
Seperti kata kepala sekolah nya Lintang, “hidup itu.. Memberi dengan sebanyak-banyaknya, bukan meminta sebanyak-banyaknya.. “.
Klo gi BT di lab 1b, samperin bikpici ajah di lab tkj ![]()
- indah.. Ade ku yang selalu bersemangat.. Terima kasih untuk waktunya kemarin yah, plus tisunya
terkadang, apa yang menurut kita baik, belum tentu itu yang terbaik
bisa jadi apa yang tidak baik u/ kita, malah itu lah yang terbaik buat kita..
bersyukurlah dengan apa yang ade punya.. tetap semangat!!! Sebuah anugerah terindah, bisa bertemu dan mengikat hati dengan kalian berdua..











& Komentar
Oktober 5, 2008 pukul 2:14 pm
dedicated to fickry??? hehehe..
iya..malu bgt dengan karakter Lintang. Begitu mudahnya saya mdp beasiswa UGM…begitu mudahnya Allah berikan beasiswa dan berbagai kesempatan ke luar negeri dan kemana-mana…tp saya belum bisa menjadi hambaNya yg maksimal..hiks hiks….malu euy… :p
Oktober 5, 2008 pukul 3:24 pm
@iki : yo gek dipostingan berikutnyo ayuk dedikasi ke khusus untuk iki
apo lah yeh kiro2 bagusnyo postingan berikut..
hmm.. tentaaaang.. hmm.. tentaaang… WARIAAAAA.. wekkekek..
*nyelem
Oktober 5, 2008 pukul 7:03 pm
*awas yuk, kelelep..!
Oktober 5, 2008 pukul 8:54 pm
ahahaha…
bicara tentang beasiswa, the system really sucks!!!
contoh: berapa mahasiswa mampu yang mendapatkannya? seperti beberapa temen saya, mereka menghamburkan uang tersebut untuk hal yang tidak seharusnya (beli pakaian, traktir makan-makan, dsb).
ketika saya tanya, “a, kamu ngambil beasiswa, tapi kok bukan buat biaya kuliah? malah berleha-leha gitu? padahal masih banyak dari mereka yang lebih berhak mendapatkannya”
jawab si a: “emang kenapa? daripada duitnya diambil orang laen, mending buat gue aja. lumayan buat beli baju.”
astaghfirullah…
kapan seleksi yang lebih baik dalam penyaluran beasiswa bisa terealisasi? agar tidak disalahgunakan oleh mereka yang kurang berhak?
Oktober 5, 2008 pukul 8:57 pm
bicara mengenai guru, memang, ada kenikmatan dan kepuasan batin yang luar biasa saat dan setelah memberikan ilmu kita kepada para peserta didik. that’s awesome
Oktober 5, 2008 pukul 8:59 pm
ah, sekalian hetrik deh!
“panda besar tuh siapo, yuk?” *inpoteinmen gosip mode on*
*sumputan*
Oktober 5, 2008 pukul 9:27 pm
irus 1 : bener!! untungnya mereka masih mo ngurusin beasiswa, nah bagi yang emang butuh, malah dipersulit..
irus 2 : yup.. bukankah kita semua adalah guru? guru bagi diri sendiri.. (owh.. mengajari diri sendiri itu lebih sulit lho, dari pada mengajari orang lain..)
irus 3 : heh? nak tau bae..
mulai menyebar bau tak sedap dek irus.. awas lah kau yeh..
irus centong : dijual dijual.. tego serebooo.. tego sereboo..
Oktober 6, 2008 pukul 12:41 am
hopeless, memang…
Tapi semakin termotivasi dan bersemangatkah seorang bikpici untuk meneruskan ilmu yang dimilikinya untuk diteruskan kepada “hati-hati si kecil” tersebut?
hmmm… I hope So…
Oktober 6, 2008 pukul 10:10 am
hiks… sy jd pengen malu
Amiiin untuk doanyo Bik
hehe,, jazakillah mb ku chayank… Ai hup ai bisa memberi sebanyak2nya, bukan nerima sebanyak2nya
Oktober 6, 2008 pukul 2:06 pm
Oktober 6, 2008 pukul 6:12 pm
Sayang gw lum sempat liat visual dari novel best seller itu, secara di lampung sampe sekarang lum ada 21
Andaikan SEMUA guru yang ada di muka bumi ini memili rasa yang sama dengan bikpici ini, alangkah INDAHnya hidup ini.
Kebetulan saya bekerja di salah satu perguruan tinggi swasata di lampung. saya bangga kerja disini. SETIAP tahun Perguruan tinggi ini memberikan BEASISWA bagi lulusan SLTA.
Memang kalo yang diangkat sisi ‘JELEK’nya gx bakal habis-habisnya, coba kita liat sisi ‘BAGUS’nya mungkin akan sebanding…
Jayalah Indonesiakoe dengan PENDIDIKAN.
Oktober 8, 2008 pukul 7:15 am
oiii bik, saya hadir… calon sarjana pendidikan juga
^_^
8 itu )I(
Oktober 8, 2008 pukul 10:18 pm
speechless buat potret buram pendidikan kita.
seorang Lintang ‘hanya’ menjadi seorang sopir truk timah (cmiiw) saat ini karena tiada (sedikit) kesempatan untuk dapat menjadi lebih dari itu dengan segala kemampuan ’super’-nya di kala kecil.
laskar pelangi adalah tamparan bagi pemerintah, pelaku pendidikan, dan juga bagi kita semua.
semoga potret buram itu menjadi lebih cerah dan berwarna di masa-masa mendatang. amiin.
cmiiw.
btw, pengayaan ilmu satu lagi dari bik pici pada postingan ini.
Oktober 9, 2008 pukul 3:21 am
#atas saya :
satu lagi komen yang sangat2 berbobot oleh seorang arten
Oktober 9, 2008 pukul 4:55 pm
# nyungak :
too much too soon, bro.
Oktober 12, 2008 pukul 7:51 am
andai saja pemerintah bisa lebih “peka”….
tidak merujuk kepada harta atau duit semata..
mungkin kemajuan di dunia pendidikan Indonesia tidak akan sebatas mimpi belaka..
Oktober 12, 2008 pukul 2:51 pm
cuma ngutip pernyataan kak seto “didiklah anak-anak anda dgn hati.”
yap,jika semua guru n pengajar mendidik murid2nya dgn hati,saya yakin,bangsa indonesi gak hanya cerdas secara akal,namun juga secara emosi n spiritiual.
* Hehe,salam kenal dari wong bengkulu yo,kaak.
Oktober 13, 2008 pukul 8:16 am